Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala

  • Visi: Menjadi pusat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang unggul dan terkemuka dalam bidang pertanian di Indonesia pada tahun 2020.
  • 52 Tahun Fakultas Pertanian Unsyiah (16 November 1964 - 16 November 2016)

Profil FP Unsyiah

profil fpFakultas Pertanian merupakan fakultas kelima di dalam lingkungan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).
Baca selanjutnya..

E-Learning FP Unsyiah

elearningSistem e-Learning menunjang proses belajar mengajar di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.
Baca selanjutnya..

Sosialisasi PWMP

Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian

Update: Lihat berita terbaru!! Seleksi Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian 

Berita Terkait

Kementan Siapkan Mahasiswa Menjadi Wirausahawan Muda Pertanian

BPPSDMP Siapkan 2.000 Wirausahawan Muda Pertanian


Sosialisasi Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian

Informasi Lebih lanjut dapat langsung ditanyakan ke WD 3 (Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni & Kerjasama) Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala atau via Email : syafruddinzaghandhy@yahoo.com

 

PWMP1

PWMP2

PWMP3

PWMP4

PWMP5

PWMP6

  

Kementan Siapkan Mahasiswa Menjadi Wirausahawan Muda Pertanian

Bogor (Antara Megapolitan) - Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) mempersiapkan langkah untuk mendorong mahasiswa menjadi wirausahawan muda pertanian. 

"Tahun ini kita telah menyiapkan program kegiatan penumbuhan wirausahawan muda pertanian (PWMP), tujuannya mendorong mahasiswa menjadi wirausahawan di bidang pertanian," kata Kepala Pusat Pendidikan Pertanian BPPSDMP, Gunawan Yulianto dalam rapat koordinasi penumbuhan wirausahawan muda pertanian di Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu. 

Gunawan mengatakan, pertanian saat ini menghadapi berbagai tantangan salah satunya menurunnya minat para pemuda untuk bekerja pada sektor pertanian. Kondisi tersebut dimungkinkan karena kesan pemuda yang salah terhadap pekerjaan sektor tersebut. 

"Mereka mengesankan bekerja di pertanian harus ke sawah bergelut dengan lumpur, tradisional, berada di pedesaan dan terbelakang," katanya. 

Selain itu, lanjut dia, kenyataan bahwa sebagian besar lulusan perguruan tinggi penyelenggaraan pendidikan cenderung lebih sebagai pencari kerja (jobseeker) daripada pencipta lapangan pekerjaan (jobcreator). 

Menurutnya, dimungkinkan karena sistem pembelajaran yang diterapkan saat ini masih terfokus pada bagaimana menyiapkan para mahasiswa yang cepat lulus dan mendapat pekerjaan.

"Sudah saatnya dunia pendidikan mendorong lahirnya lulusan yang siap menciptakan lapangan pekerjaan," katanya.

Kenyataan saat ini, lanjut dia, sarjana pertanian yang bekerja di sektor pertanian semakin sedikit, mereka cenderung memilih bekerja di luar sektor pertanian. 

Hal ini, jika tidak ada penanganan dalam jangka panjang secara gradual berdampak menurunnya jumlah tenaga kerja terdidik yang bekerja di sektor pertanian, dan pada akhirnya terjadi kelangkaan tenaga terdidik pada sektor pertanian. 

"Perlu terobosan untuk memperkuat sumber daya manusia pertanian, fakta-fakta tersebut harus segera dihentikan," katanya. 

Lebih lanjut ia mengatakan, strategi untuk memperkuat sumber daya manusia pertanian, dengan mengubah kesan kepada pemuda bahwa sektor pertanian bukan hanya budidaya tanaman di sawah melainkan usaha agribisnis dari subsistem hulu sampai hilir yang justru memberikan peluang kerja dan peluang usaha yang sangat luas. 

"Strategi lain menumbuhkembangkan jiwa kewirausahawan dan meningkatkan aktivitas kewirausahawan agar lulusan perguruan tinggi pertanian lebih menjadi pencipta lapangan kerja," katanya. 

Ia mengatakan, melalui kegiatan PWMP mahasiswa akan bertindak sebagai wirausahawan muda pertanian (agripreneur). Setelah menjadi tenaga terdidik pertanian diharapkan akan menjadi pengusaha pertanian, sekaligus menjadi penggerak dan pencipta lapangan kerja di sektor pertanian. 

"Program PWMP ini terbagi dalam tiga tahapan, mulai dari tahap pertama penyadaran dan penumbuhan, pemandirian, dan pengembangan. Masing-masing tahapan dilaksanakan satu tahun," katanya. 

Program PWMP ini melibatkan tujuh perguruan tinggi mitra dan sembilan sekolah tinggi penyuluhan pertanian yang ada di bawah koordinasi Kementerian Pertanian. 

"Tahun ini merupakan rintisan, setiap perguruan tinggi akan disiapkan modul pembelajaran, dan paket usaha atau judul yang akan dikerjakan selama program berlangsung," kata Satria Utama, Staf Sub Bidang Peserta Didik, BPPSDMP. 

Satria mengatakan, tersedia 500 paket yang diberikan kepada perguruan tinggi mitra, STPP, dan SMK-PP masing-masing paket nilainya Rp30 juta. 

"Setelah mahasiswa mendapatkan pembekalan kewirausahaan, program ini mendorong PTN, STPP, SMK-PP untuk menghasilkan paket wirausahawan di bidang pertanian melalui paket tadi," katanya. 

sumber berita: http://megapolitan.antaranews.com/berita/20871/kementan-siapkan-mahasiswa-menjadi-wirausahawan-muda-pertanian


BPPSDMP Siapkan 2.000 Wirausahawan Muda Pertanian

Bogor (Antara Megapolitan) - Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian menyiapkan 2.000 mahasiswa menjadi wirausahawan muda pertanian yang menguasai dari hulu hingga hilir. 

"2.000 mahasiswa ini kita bimbing, latih dan bina sebagai agripreneur melalui program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian yang kita mulai tahun ini," kata Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, BPPSDMP, Gunawan Yulianto, saat ditemui di sela-sela pertemuan koordinasi penumbuhan wirausahawan muda pertanian (PWMP) di Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis. 

Ia mengatakan, Penyiapan 2.000 wirausahawan muda pertanian telah dimulai tahun ini sebagai rintisan awal yang berasal tujuh perguruan tinggi mitra, sembilan Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP) dan Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK-PP) yang berada di bawah koordinasi BPPSDMP, Kementan. 

Ketujuh perguruan tinggi mitra tersebut adalah IPB, Universitas Gajah Mada, Universitas Padjajaran, Universitas Lampung, Universitas Syahkuala (Aceh), Universitas Hasanuddin, dan Universitas Brawijaya. Sedangkan STPP yang terlibat diantaranya, STPP Medan, STPP Bogor, STPP Manokwari, dan lainnya. 

"2.000 mahasiswa ini telah diseleksi oleh tim seleksi yang berasal dari perguruan tinggi, STPP, SMK-PP dan BPPSDMP, mereka dipastikan benar-benar memiliki minat yang kuat dalam pertanian," katanya. 

Ia menjelaskan, selama tiga tahun 2.000 mahasiswa akan mendapatkan bimbingan dan pendampingan dari tenaga pengajar masing-masing di kampus, mulai dari studi belajar dalam rangka menumbuhkan minat serta penguatan dan kemandirian calon wirausahaan muda tersebut. 

"Setiap tahapannya diawasi tiap tahunnya, hingga di tahun ketiga, mereka sudah siap untuk menjalankan rencana bisnis yang telah disiapkan sejak awal mengikuti program PWMP tersebut," katanya. 

Peserta program PWMP dari perguruan tinggi mitra yang dilibatkan adalah mahasiswa semester akhir, sedangkan dari STPP dan SMK-PP merupakan mahasiswa semester awal yakni semester I dan II. 

"Melalui program ini, kita juga bisa melihat kemampuan masing-masing wirausahawan muda pertanian yang dilatih oleh perguruan tinggi mitra atau dari STPP dan SMK-PP," katanya. 

Selain mendapatkan bimbingan dalam bentuk program studi yang modul pembelajarannya disiapkan oleh tenaga pengajar masing-masing perguruan tinggi maupun STPP dan SMK-PP juga BPPSDMP, peserta program PWMP juga menyiapkan rencana bisnis yang bergerak di sektor pertanian, perkebunan dan peternakan.

"Untuk menjalankan rencana bisnis ini mereka akan kita berikan suntikan dana," katanya. 

Gunawan menambahkan, program PWMP disiapkan untuk menjawab tantangan permasalahan generasi muda pertanian yang tidak berminat di sektor tersebut, karena mengkonotasikan petani bekerja di sawah, panas dan kotor. 

"Kondisi saat ini negara membutuhkan generasi muda yang mau terjun di bidang pertanian, khususnya yang saat ini menempuh pendidikan pertanian," katanya. 

Kenyataan saat ini, sumber daya manusia di bidang pertanian di luar petani yang jumlahnya mencapai 36 juta se Indonesia, wirausahawan muda yang bergerak di sektor pertanian jumlahnya kurang dari satu persen. 

"Kondisi ini jika terus dibiarkan, berdampak pada menurunnya jumlah tenaga kerja terdidik yang bekerja di sektor pertanian," katanya. 

Hadirnya wirausahawan muda pertanian yang dilatih sebagai agrisosiopreneur yang tidak hanya bergerak mencari untung sebesar-besarnya, tetapi bagaimana memanfaatkan sumber daya alam yang ada, mengelolanya melibatkan petani, menggunakan teknologi yang dihasilkan, ramah terhadap lingkungan, serta berkelanjutan, dan mampu menyediakan pasar. 

"Yang kami siapkan adalah Agrisosiopreneur, yang memiliki niat untuk mendidik bukan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya, tetapi memberdayakan bersama-sama," kata Gunawan. 

sumber berita: http://www.antarabogor.com/berita/20908/bppsdmp-siapkan-2000-wirausahawan-muda-pertanian

September 2017
M T W T F S S
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30
No events

Jadwal Waktu Shalat

FP News on FB

Pengunjung Online

We have 20 guests and no members online

Hubungi Kami